
Tidore,HumasManDu – Upaya membangun budaya literasi yang konsisten di lingkungan madrasah kembali mendapat pengakuan akademik. Hal ini terungkap dalam penelitian disertasi yang dilakukan oleh Rahmawati Ramli, S.Pd., M.Pd., mahasiswa Program Doktor Dirasah Islamiyah Konsentrasi Pendidikan dan Keguruan di UIN Alauddin Makassar beberapa waktu lalu.
Melalui komunikasi via telepon seluler dengan Tim Humas MAN 2 Kota Tidore Kepulauan, Rahmawati Ramli, S.Pd., M.Pd., memaparkan hasil penelitian disertasinya yang bertajuk evaluasi Program Gerakan Literasi Madrasah (GALATAMA) menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product) di MAN 2 Kota Tidore Kepulauan, Rahmawati menemukan bahwa program literasi yang dijalankan madrasah tersebut secara umum telah berlangsung efektif dan menunjukkan prospek keberlanjutan yang menjanjikan.
“Secara keseluruhan, Program Gerakan Literasi Madrasah di MAN 2 Kota Tidore Kepulauan telah berjalan efektif dan memiliki potensi keberlanjutan yang baik.Implementasi program mencakup berbagai aspek literasi, antara lain literasi baca Al-Qur’an sebagai penguatan nilai-nilai keagamaan, literasi Bahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk meningkatkan kompetensi komunikasi global dan keislaman, serta pengembangan budaya baca yang mendorong peserta didik untuk membiasakan diri membaca, memahami, dan mengembangkan wawasan secara mandiri. Meski demikian, masih diperlukan penguatan pada aspek pemerataan partisipasi, pengembangan sumber bacaan, serta sistem monitoring dan evaluasi yang lebih optimal,” ungkap Rahmawati.
Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari komitmen seluruh warga madrasah dalam membangun budaya baca dan literasi sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. Program yang telah berjalan selama ini dinilai mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aktif, sekaligus mendorong tumbuhnya minat baca peserta didik. dapat di lihat dari beberapa karya siswa dalam bentuk buku yang sudah di luncurkan dan yang akan diluncurkan kembali dalam waktu dekat.
Hasil penelitian tersebut juga menghasilkan sejumlah rekomendasi bagi para pemangku kebijakan, khususnya Kementerian Agama. Rahmawati berharap temuan lapangan ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program pendampingan literasi, pelatihan guru, serta pengembangan sarana dan prasarana yang lebih relevan dengan kebutuhan madrasah di berbagai daerah.
“Setiap madrasah memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda. Karena itu, kebijakan penguatan literasi perlu disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan agar lebih efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Selama proses penelitian berlangsung, Rahmawati mengaku memperoleh dukungan penuh dari pihak MAN 2 Kota Tidore Kepulauan. Keterbukaan informasi yang diberikan oleh kepala madrasah, guru, serta pengelola program literasi menjadi faktor penting yang membantu peneliti memperoleh data secara komprehensif.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh informan yang telah berkontribusi dalam penelitian tersebut. Menurutnya, kolaborasi dan keterbukaan berbagai pihak menjadi modal penting dalam menghasilkan penelitian yang akurat dan bermanfaat bagi pengembangan pendidikan madrasah.
Lebih lanjut, Rahmawati berharap program literasi yang telah berkembang di MAN 2 Kota Tidore Kepulauan dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya. Bahkan, praktik baik yang telah dijalankan madrasah tersebut dinilai berpotensi menjadi model bagi madrasah lain dalam mengembangkan budaya literasi yang kuat, adaptif, dan berkelanjutan.
Penelitian ini menjadi bukti bahwa penguatan literasi bukan sekadar program pendukung, melainkan investasi pendidikan jangka panjang dalam mencetak generasi pembelajar yang kritis, kreatif, dan berdaya saing di masa depan. Dengan dukungan semua pihak, budaya literasi di madrasah diharapkan terus tumbuh dan memberikan dampak positif bagi peningkatan mutu pendidikan nasional.(ft)*
