
Oleh: Jufri Ismail,M.Pd (Kordinator Literasi MAN 2 Tikep)
Kota Tidore Kepulauan kembali menorehkan kebanggaan di dunia pendidikan. Di tengah tantangan rendahnya minat baca dan menulis yang masih menjadi perhatian nasional, Madrasah Aliyah Negeri MAN 2 Kota Tidore Kepulauan justru menghadirkan sebuah prestasi yang patut diapresiasi. Puluhan karya buku berhasil diterbitkan oleh tenaga pendidik dan peserta didik, menjadikan madrasah ini sebagai salah satu pusat gerakan literasi yang tumbuh kuat dari kawasan timur Indonesia.
Deretan buku yang terpajang bukan sekadar kumpulan tulisan biasa. Di balik setiap halaman tersimpan gagasan, pengalaman hidup, kearifan lokal, sejarah leluhur, keindahan alam, hingga perjuangan generasi muda dalam meraih cita-cita. Karya-karya tersebut telah diterbitkan melalui berbagai penerbit nasional, di antaranya Kemendikdasmen, Perpusnas Press, Forum Sastra Indonesia, ALR Publisher, dan Pustaka Armada Pena. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa budaya literasi yang dibangun secara konsisten mampu melahirkan karya nyata yang berdampak luas.
Beragam genre hadir menghiasi koleksi tersebut, mulai dari sastra daerah, cerita anak, puisi, cerpen, autobiografi, hingga buku budaya dan pendidikan. Menariknya, sebagian besar karya mengangkat identitas lokal Tidore yang kaya akan sejarah dan tradisi. Nama-nama seperti , Tifa Gururu, Gam Tomayou, Bumi Dalam Kata, Mencintai Tidore Lewat Jejak Leluhur, hingga Ruang yang Tertata, Alam yang Lestari menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat diangkat menjadi karya literasi yang bernilai dan relevan bagi generasi masa kini.
Keberhasilan ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa budaya literasi yang dibangun secara terstruktur di lingkungan madrasah mampu meningkatkan kreativitas, karakter, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Di MAN 2 Kota Tidore Kepulauan, literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca, tetapi berkembang menjadi gerakan menulis dan menerbitkan buku yang melibatkan guru dan siswa secara aktif.
Yang membuat publik kagum, sebagian besar penulis masih berstatus pelajar. Mereka mampu menuangkan pengalaman, impian, serta pandangan hidup ke dalam tulisan yang menarik dan inspiratif. Di era media sosial yang serba instan, kehadiran para penulis muda ini menjadi bukti bahwa generasi muda Tidore tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga pencipta pengetahuan.

