
Oleh : Dr. Lukman Tamhir, S.Ag, M.Pd
(Kepala MAN 2 Kota Tidore Kepulauan)
Rendahnya tingkat literasi masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh dunia pendidikan di Indonesia. Berdasarkan data berkala dari skor PISA (Programme for International Student Assessment), kemampuan membaca, sains, dan matematika anak-anak Indonesia sering kali berada di papan bawah global. Di tengah upaya mencari formula terbaik untuk memecahkan rekor ini, sebuah harapan baru lahir dari Indonesia Timur, tepatnya melalui Festival Gerakan Literasi Madrasah (Galatama) II Tingkat Provinsi Maluku Utara Tahun 2026.
Kesuksesan penyelenggaraan Galatama II di Bumi Moloku Kie Raha yang dibuka langsung oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, di Lapangan Ngaralamo Salero Ternate menjadi bukti nyata. Ajang ini memperlihatkan bahwa wilayah yang kaya akan sejarah perjuangan ini mampu menjadi pionir dalam menggerakkan budaya membaca dan menulis secara masif di lingkungan madrasah. Maluku Utara kini resmi menjadi episentrum gerakan literasi. Momentum ini harus ditangkap oleh pemerintah pusat untuk mengangkat Galatama dari skala regional menjadi agenda resmi berskala nasional, menjadikannya katalisator utama akselerasi literasi di seluruh penjuru Nusantara.
Galatama II Maluku Utara 2026 telah memberikan cetak biru (blueprint) berharga mengenai bagaimana sebuah festival literasi mampu menggerakkan seluruh elemen pendidikan Islam. Ribuan siswa madrasah dari berbagai kabupaten dan kota berkumpul untuk berkompetisi membuktikan kemampuan intelektual mereka. Salah satu contoh nyata adalah Kontingen Kabupaten/Kota yang datang dengan ambisi besar dan persiapan matang pasca-seleksi ketat di tingkat kota demi membidik podium tertinggi
Animo yang begitu masif ini membuktikan bahwa siswa madrasah di daerah memiliki bakat terpendam yang luar biasa di bidang kepenulisan, riset, dan literasi digital. Keberhasilan Maluku Utara mengoordinasikan acara sebesar ini menunjukkan bahwa daerah di luar Pulau Jawa sangat siap memimpin gerakan perubahan. Kesuksesan di tingkat lokal ini adalah modal sosial yang kuat. Model pelaksanaan yang kolaboratif, kompetitif, dan berbasis penguatan karakter di Maluku Utara sudah sangat matang untuk diadopsi menjadi regulasi kompetisi tingkat nasional.
Ketika diangkat menjadi event nasional oleh Menteri Agama RI, Galatama tidak boleh hanya sekadar menyalin perlombaan yang sudah ada. Festival ini harus dirancang sebagai ajang bergengsi yang memperebutkan Piala Bergilir Menteri Agama, melibatkan delegasi terbaik dari 38 provinsi di Indonesia. Format kompetisinya pun harus dirancang secara komprehensif dengan memadukan dua aspek utama: Pertama, Literasi Klasik dan Keagamaan.Madrasah memiliki akar tradisional yang kuat pada kajian Kitab Turots (kitab kuning). Kompetisi membaca, menerjemahkan, dan mengontekstualisasikan kitab klasik dengan isu-isu kontemporer harus menjadi menu utama. Selain itu, cabang seperti Musabaqah Makalah Al-Qur’an (MMQ) dan debat ilmiah menggunakan bahasa Arab serta Inggris akan menantang ketajaman analisis siswa. Kedua, Literasi Modern dan Digital.Untuk menjawab tantangan zaman, Galatama Nasional wajib memasukkan cabang lomba berbasis teknologi. Mulai dari penulisan Karya Ilmiah Remaja (KIR), kompetisi robotik madrasah, pembuatan konten digital edukatif, hingga pemahaman cyber security. Kombinasi ini akan memastikan bahwa lulusan madrasah tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga cakap secara digital.Selain perlombaan, ajang ini dapat disandingkan dengan Madrasah Literacy Expo, sebuah ruang pameran nasional untuk memamerkan buku-buku hasil karya guru dan siswa, serta inovasi teknologi yang diciptakan oleh madrasah-madrasah di seluruh Indonesia.
Dampak Strategis bagi Dunia Pendidikan Indonesia Mengubah Galatama menjadi gerakan nasional dengan berkaca pada sukses Maluku Utara akan membawa dampak multiplikasi (multiplier effect) bagi mutu pendidikan Islam di Indonesia: Pertama, Pemerataan Kualitas Pendidikan: Kompetisi nasional akan memicu standardisasi pembinaan literasi di setiap daerah. Madrasah di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) akan terpacu untuk mengejar ketertinggalan fasilitas dari madrasah di kota-kota besar demi bisa bersaing di tingkat nasional. Kedua Menumbuhkan Budaya Riset: Galatama akan merangsang lahirnya peneliti-peneliti muda dari kalangan santri. Ketika membaca dan menulis sudah menjadi budaya dasar, maka kemampuan berpikir kritis, objektif, dan berbasis data akan terbentuk secara alami. Ketiga, Internalisasi Moderasi Beragama: Melalui literasi yang sehat, siswa madrasah diajarkan untuk menyaring informasi dan membaca teks keagamaan secara mendalam. Hal ini menjadi benteng utama dalam menangkal arus hoaks, radikalisme, dan pemahaman agama yang sempit, sekaligus menyebarkan nilai-nilai Islam yang inklusif, damai, dan toleran.Menjawab Tantangan Implementasi Nasional, Tentu saja, memindahkan skala kegiatan dari tingkat provinsi ke tingkat nasional akan menghadapi tantangan besar, terutama masalah kesenjangan infrastruktur digital dan keterbatasan perpustakaan di madrasah-madrasah pelosok atau swasta.
Solusinya terletak pada sinergi lintas sektoral. Kementerian Agama tidak bisa berjalan sendiri. Perlu ada kolaborasi erat dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Perpustakaan Nasional, serta komunitas pegiat literasi swasta. Di sisi lain, masalah pendanaan berkelanjutan dapat disiasati dengan menggandeng sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pendidikan atau industri.
Gerakan Literasi Madrasah (Galatama) yang digelorakan dari Maluku Utara bukan lagi sekadar milik satu daerah, melainkan potensi aset nasional yang bernilai tinggi Mengelevasi Galatama menjadi sebuah event nasional adalah investasi peradaban jangka panjang yang sangat strategis. Berawal dari Ternate, gerakan ini siap menyebar ke seluruh pelosok negeri, mengubah wajah madrasah menjadi pusat keunggulan intelektual yang melahirkan pemuda-pemudi literat, kritis, dan berwawasan global. Sudah saatnya pembuat kebijakan di Kementerian Agama pusat meresmikan Galatama sebagai agenda nasional tahunan demi menjemput kejayaan Indonesia Emas 2045. “Madrasah Literat,Madrasah Maju, Madrasah Bermartabat”.

